Menjelajah Alam dan Budaya Nusantara yang Katanya Biasa Saja Tapi Nyatanya Bikin Minder Kota Besar

Menjelajah Alam dan Budaya Nusantara yang Katanya Biasa Saja Tapi Nyatanya Bikin Minder Kota Besar

Katanya menjelajah alam dan budaya Nusantara itu klise. Katanya juga cuma cocok buat orang yang kehabisan ide liburan atau terlalu rajin membaca brosur pariwisata. Tapi anehnya, setiap kali kaki ini menginjak tanah Nusantara, yang klise justru rasa takjubnya. Dari gunung yang berdiri sok gagah sampai laut yang warnanya seperti diedit pakai filter mahal, semuanya seolah mengejek kita yang sering bilang “Indonesia mah gitu-gitu aja”.

Mari kita mulai dari alamnya. Nusantara ini punya hutan, gunung, pantai, sungai, danau, sampai padang savana yang seolah berkata, “Silakan pilih, mau capek yang mana hari ini?” Gunung-gunung menjulang dengan penuh percaya diri, seakan menantang kita yang baru naik dua ratus anak tangga saja sudah ngos-ngosan. Pantai-pantainya juga tak kalah menyebalkan, airnya jernih, pasirnya putih, dan matahari terbenamnya terlalu indah untuk sekadar diposting lalu dilupakan. Belum lagi desa-desa kecil yang jalannya sempit, sinyalnya pas-pasan, tapi ketenangannya membuat kita sadar betapa ributnya hidup di kota.

Lalu ada budaya. Ah iya, budaya Nusantara yang sering dianggap cuma tarian seremonial dan baju adat yang dipakai setahun sekali. Padahal, budaya di sini hidup, bernapas, dan kadang nyinyir juga. Dari logat yang berbeda tiap daerah, makanan yang rasanya ekstrem di lidah pendatang, sampai tradisi yang kalau dijelaskan setengah-setengah malah bikin salah paham. Setiap daerah punya cerita, legenda, dan mitos yang kalau dipikir-pikir, jauh lebih seru daripada sinetron kejar tayang.

Menjelajah budaya Nusantara itu seperti membuka buku tebal tanpa daftar isi. Kita tidak pernah tahu akan menemukan apa di halaman berikutnya. Bisa saja kita disambut senyum ramah warga lokal, atau justru tatapan heran karena cara kita makan dianggap aneh. Tapi di situlah pesonanya. Nusantara tidak berusaha menyenangkan semua orang, dan justru karena itu ia terasa jujur.

Di tengah semua keindahan dan keunikan ini, muncul kebutuhan untuk mencari informasi yang tidak sekadar asal copas. Di sinilah kuatanjungselor.com hadir, bukan sebagai pahlawan super, tapi setidaknya sebagai teman perjalanan yang tidak terlalu banyak janji manis. Lewat kuatanjungselor.com, cerita tentang alam dan budaya Nusantara disajikan apa adanya, lengkap dengan realita di lapangan yang kadang melelahkan, tapi selalu berkesan.

Bicara soal cerita, setiap perjalanan di Nusantara selalu punya plot twist. Kita berangkat dengan ekspektasi tinggi, lalu dihadapkan pada jalan rusak, cuaca tak bersahabat, atau jadwal yang molor. Tapi anehnya, justru dari situ cerita terbaik lahir. Cerita tentang tertawa bersama orang asing, tentang belajar menghargai perbedaan, dan tentang menyadari bahwa keindahan tidak selalu datang dalam kondisi sempurna.

Kuatanjungselor juga sering mengingatkan kita bahwa menjelajah Nusantara bukan soal pamer destinasi, tapi soal memahami. Memahami alam yang perlu dijaga, bukan dieksploitasi. Memahami budaya yang perlu dihormati, bukan dijadikan konten murahan. Ironisnya, semakin kita menjelajah, semakin kita sadar betapa kecilnya kita di hadapan bentang alam dan panjangnya sejarah Nusantara.

Jadi, kalau masih ada yang bilang menjelajah alam dan budaya Nusantara itu membosankan, mungkin masalahnya bukan di Nusantaranya. Mungkin kita yang terlalu malas membuka mata dan telinga. Nusantara penuh pesona dan cerita, tinggal kita mau mendengar atau tetap sibuk mengeluh. Dan kalau butuh pengingat halus yang sedikit sarkastik, ya, kuatanjungselor siap menemani perjalanan itu.

Tags: